SPACYON MEDIA – Ketika dunia masih terpukau oleh kemunculan ChatGPT dan ledakan teknologi Generative AI, ambisi China terhadap AI ternyata telah bergerak lebih jauh. Beijing tidak hanya berambisi menciptakan chatbot yang semakin cerdas, tetapi juga membangun ekonomi, industri, dan masyarakat yang ditopang oleh kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Dalam satu dekade terakhir, AI telah bertransformasi dari sekadar proyek penelitian menjadi strategi nasional yang masuk dalam agenda pembangunan jangka panjang China. Pemerintah pusat, perusahaan teknologi, universitas, hingga sektor manufaktur bergerak dalam satu arah yang sama, yakni menjadikan China sebagai pemimpin global dalam teknologi AI pada tahun 2030.
Target tersebut bukan sekadar wacana politik. Mengutip dokumen resmi New Generation Artificial Intelligence Development Plan yang diterbitkan oleh State Council atau Dewan Negara China pada 2017, Beijing secara tegas menetapkan AI sebagai pilar utama pembangunan ekonomi dan teknologi nasional hingga pertengahan abad ke-21.
Melalui dokumen tersebut, China menempatkan AI sebagai teknologi strategis yang diyakini akan menentukan daya saing ekonomi, kekuatan industri, hingga pengaruh geopolitik suatu negara di masa depan.
Baca Juga: Perpres AI Indonesia Segera Terbit: Dampaknya untuk Pengguna AI Chat
Baca Juga: Claude Fable 5: Dari Puncak Performa ke Perintah Shutdown dalam 3 Hari
AI sebagai Senjata Ekonomi Baru China
Menurut dokumen resmi State Council, China memandang AI sebagai mesin pertumbuhan ekonomi generasi berikutnya. Oleh karena itu, pemerintah berupaya mengintegrasikan teknologi AI ke berbagai sektor, mulai dari industri manufaktur hingga layanan publik.
Dalam cetak biru tersebut, Beijing menargetkan diri menjadi pusat inovasi AI dunia pada 2030. Untuk mencapai tujuan tersebut, investasi besar-besaran terus digelontorkan ke sektor teknologi, termasuk pengembangan chip AI, pusat komputasi nasional, model bahasa besar atau Large Language Models (LLM), robotika, serta kendaraan otonom.
Lebih lanjut, pemerintah China menegaskan bahwa fokus mereka tidak hanya menciptakan teknologi AI, melainkan memastikan teknologi tersebut dapat digunakan secara luas dalam kehidupan masyarakat dan kegiatan ekonomi sehari-hari.
Dengan kata lain, AI diposisikan bukan sebagai industri tersendiri, melainkan sebagai fondasi yang akan menggerakkan hampir seluruh sektor pembangunan nasional.
Strategi Baru: Dari Pengembangan Menuju Implementasi
Setelah menghabiskan hampir satu dekade membangun fondasi teknologi AI, China kini memasuki fase baru. Jika periode 2017 hingga 2024 berfokus pada riset dan pengembangan, maka sejak 2025 pemerintah mulai mendorong implementasi AI secara masif melalui program nasional bertajuk AI Plus Initiative.
Berdasarkan pedoman resmi yang diterbitkan State Council pada Agustus 2025, program AI Plus dirancang untuk mempercepat integrasi AI ke berbagai sektor strategis.
Beberapa sektor yang menjadi prioritas meliputi:
- Industri manufaktur
- Pertanian modern
- Kesehatan
- Pendidikan
- Transportasi
- Konsumsi digital
- Tata kelola pemerintahan
- Penelitian ilmiah
Menariknya, pemerintah China menargetkan tingkat penetrasi terminal pintar generasi baru dan AI Agent dapat melampaui 70 persen pada 2027. Angka tersebut bahkan diproyeksikan meningkat hingga lebih dari 90 persen pada 2030.
Melalui strategi ini, Beijing berharap AI dapat menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus meningkatkan produktivitas industri secara signifikan.
Robot Humanoid Menjadi Prioritas Utama Ambisi China terhadap AI

Di tengah pesatnya perkembangan AI generatif, China juga mulai mengarahkan perhatian pada teknologi embodied AI atau AI yang hadir dalam bentuk fisik.
Salah satu wujud paling nyata dari ambisi tersebut adalah pengembangan robot humanoid.
Dalam sejumlah laporan pemerintah dan dokumen industri terbaru, robot humanoid disebut sebagai salah satu teknologi strategis yang akan menentukan masa depan ekonomi China.
Berbeda dengan chatbot yang bekerja di dunia digital, robot humanoid dirancang untuk berinteraksi langsung dengan lingkungan fisik. Robot ini dapat berjalan, berbicara, mengangkat barang, membantu proses manufaktur, hingga memberikan layanan perawatan bagi lansia.
Kebutuhan tersebut dinilai semakin penting mengingat China sedang menghadapi tantangan demografis berupa menurunnya angka kelahiran dan meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia.
Sejumlah analis bahkan menyebut robot humanoid sebagai “smartphone berikutnya”. Sebagaimana China berhasil menjadi produsen terbesar kendaraan listrik dan perangkat elektronik, negara tersebut kini berupaya menjadi pusat produksi robot humanoid dunia.
Mobil Otonom dan Kendaraan Cerdas

Selain robot humanoid, China juga mendorong pengembangan kendaraan berbasis AI sebagai bagian dari strategi transformasi industri. Dilansir dari berbagai laporan pemerintah dan analisis Reuters, perusahaan teknologi dan otomotif China kini berlomba mengembangkan:
- Mobil tanpa pengemudi (self-driving cars)
- Sistem navigasi berbasis AI
- Asisten virtual dalam kendaraan
- Sistem keselamatan prediktif
- Kendaraan listrik terhubung (connected vehicles)
Dalam berbagai kebijakan nasional, kendaraan energi baru atau New Energy Vehicles (NEV) dan kendaraan cerdas mendapat status sebagai sektor prioritas.
Pemerintah meyakini bahwa kombinasi antara AI dan kendaraan listrik akan menciptakan industri baru bernilai triliunan dolar dalam dekade mendatang.
AI Agent: Generasi Baru Asisten Digital

Seiring berkembangnya teknologi AI, fokus China juga mulai bergeser dari chatbot menuju AI Agent. Jika chatbot hanya mampu menjawab pertanyaan pengguna, AI Agent dirancang untuk mengambil tindakan secara mandiri dan menyelesaikan tugas yang lebih kompleks.
Berdasarkan rencana strategis terbaru dari Ministry of Industry and Information Technology (MIIT), AI Agent diproyeksikan mampu:
- Menjalankan tugas administratif
- Mengelola jadwal dan pekerjaan
- Membantu operasional perusahaan
- Mengendalikan perangkat pintar
- Menjadi asisten pribadi digital
Pemerintah China menargetkan teknologi ini menjadi bagian integral dari aktivitas ekonomi dan kehidupan masyarakat dalam beberapa tahun ke depan.
Membangun Infrastruktur AI Terbesar di Dunia

Di balik ambisi besar tersebut, China juga menyadari bahwa AI tidak akan berkembang tanpa infrastruktur yang memadai. Karena itu, Beijing terus mempercepat pembangunan pusat data dan jaringan komputasi berskala nasional.
Fokus pembangunan meliputi:
- Pusat data nasional
- Jaringan komputasi berkecepatan tinggi
- Cloud computing
- Chip AI domestik
- Ekosistem AI open-source
Menurut pemerintah China, daya komputasi merupakan salah satu faktor paling krusial dalam perlombaan AI global.
Oleh sebab itu, pembangunan infrastruktur digital menjadi prioritas utama guna mengurangi ketergantungan terhadap teknologi asing, khususnya dari Amerika Serikat.
Persaingan dengan Amerika Serikat
Tidak dapat dimungkiri bahwa ambisi AI China juga dipengaruhi oleh rivalitas teknologi dengan Amerika Serikat. Dalam beberapa tahun terakhir, Washington memberlakukan pembatasan ekspor chip AI canggih ke China. Namun demikian, langkah tersebut justru mendorong Beijing mempercepat upaya kemandirian teknologi.
Saat ini, perusahaan-perusahaan seperti DeepSeek, Alibaba, Tencent, Baidu, hingga Zhipu AI menjadi bagian penting dari ekosistem AI nasional China.
Mengutip analisis Reuters, pemerintah China bahkan mendukung ekspansi perusahaan AI domestik ke negara-negara berkembang guna memperluas pengaruh teknologi China di pasar global.
Kondisi tersebut membuat persaingan AI antara China dan Amerika Serikat semakin intens dan menjadi salah satu pertarungan teknologi paling menentukan abad ke-21.
Menuju Masyarakat Cerdas 2035
Meski menargetkan kepemimpinan AI global pada 2030, visi China sesungguhnya tidak berhenti di sana. Dalam dokumen AI Plus terbaru, pemerintah menyatakan bahwa pada 2035 China ingin memasuki era Intelligent Economy dan Intelligent Society secara menyeluruh.
Artinya, AI tidak hanya digunakan oleh perusahaan teknologi, tetapi hadir dalam hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat.
Mulai dari rumah pintar, layanan kesehatan digital, pendidikan berbasis AI, transportasi otonom, industri cerdas, hingga administrasi publik yang otomatis, seluruhnya akan menjadi bagian dari ekosistem masyarakat cerdas yang sedang dibangun Beijing. Dengan kata lain, Ambisi China terhadap AI ingin menciptakan negara yang sebagian besar infrastrukturnya ditenagai oleh kecerdasan buatan.