Internet Rakyat: Internet 100 Mbps Rp 100.000 per Bulan yang Menjangkau 70 Juta Rumah Tangga

Internet Rakyat (IRA) hadir sebagai layanan internet 100 Mbps Rp 100.000 per bulan tanpa kuota. Simak cara daftar dan wilayah jangkauan awalnya.
10 Jul 2026 Dimas 3 min read

Rp 100.000 per bulan. 100 Mbps. Tanpa kuota. Internet Rakyat (IRA) resmi meluncur sebagai layanan internet rumah dan bisnis dari PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI). Angka yang ditawarkan berada jauh di bawah rata-rata harga broadband fixed di Indonesia yang berkisar antara Rp 250.000 hingga Rp 400.000 per bulan untuk kecepatan serupa.

WIFI membidik 70 juta rumah tangga Indonesia sebagai pasar potensial. Target awal: 5 juta pelanggan. Dana yang dialokasikan mencapai Rp 5,9 triliun. Sebagian digunakan untuk kerja sama infrastruktur dengan PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel), yang menyediakan menara dan jaringan fiber optik sebagai backhaul.

Teknologi yang digunakan adalah Fixed Wireless Access (FWA). Sinyal internet dikirim dari menara pemancar ke antena penerima di rumah pelanggan, lalu diteruskan ke modem atau router. Tidak perlu kabel fiber optik hingga ke rumah. Biaya instalasi bisa ditekan. Modem dan biaya pasang: gratis.

Tiga Provinsi Tahap Awal

Tahap awal Internet Rakyat aktif di tiga wilayah: Jawa Barat, Jawa Timur, dan DKI Jakarta. Pendaftaran dibuka sejak Januari 2026 melalui aplikasi IRA atau website resmi. Aktivasi dilakukan bertahap hingga Juni 2026.

Paket yang tersedia hanya satu: durasi 30 hari, kecepatan up to 100 Mbps, tanpa kuota. Biaya instalasi dan modem gratis.

Pendaftaran bisa dilakukan mandiri melalui aplikasi. Atau melalui sales resmi di area pelanggan. Setelah verifikasi, tim teknis menjadwalkan pemasangan antena dan modem.

Dari sisi kompetisi, model ini bersaing langsung dengan layanan FWA lain seperti MyRepublic Air. Perbedaan utamanya ada di harga dan target pasar. Internet Rakyat menyasar rumah tangga yang selama ini belum tersentuh internet broadband, bukan segmen perkotaan yang sudah jenuh.

Celah yang Coba Diisi

Indonesia memiliki kesenjangan penetrasi internet antara perkotaan dan pedesaan. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan penetrasi di perkotaan sudah tinggi, sementara di pedesaan masih tertinggal.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyatakan bahwa koneksi internet adalah hak setiap warga negara. Perusahaan pelat merah Mitratel menyiapkan menara dan fiber optik secara bertahap untuk mendukung ekspansi Internet Rakyat ke daerah yang selama ini tidak terjangkau operator konvensional.

Model FWA dipilih karena pertimbangan biaya. Tidak perlu menggali jalan atau menarik kabel ke setiap rumah. Cukup satu menara pemancar dan satu antena di atap pelanggan. Ekspansi ke daerah terpencil jadi lebih cepat dan lebih murah dibandingkan fiber optik konvensional.

Infrastruktur dan Target

Mitratel menyiapkan menara dan fiber optik secara bertahap. Kerja sama ini mencakup kolokasi di menara yang sudah ada dan pembangunan jaringan fiber baru. WIFI menargetkan cakupan lebih luas sepanjang 2026 dan membuka peluang kerja sama dengan penyedia infrastruktur lain.

Ekspansi ini tidak tanpa tantangan. Biaya penggelaran infrastruktur di daerah terpencil lebih tinggi. Daya beli masyarakat di wilayah tersebut justru lebih rendah. Model harga tunggal Rp 100.000 per bulan menjadi tekanan tersendiri terhadap margin operasional.

Hashim Djojohadikusumo, pemilik WIFI, sebelumnya menyebut Internet Rakyat sebagai salah satu proyek yang bisa mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Target jangka panjangnya: menghubungkan rumah tangga yang selama ini tidak terjangkau operator internet konvensional. Diperkirakan masih ada sekitar 40 hingga 50 juta rumah tangga di luar jangkauan broadband fixed saat ini.

Dimas Tarich W

Media Strategy & Content Operations at Spacyon.com. Agentic AI & Digital Marketing Enthusiast.

Related Articles