Ilusi Kelangkaan: Anatomi Naik-Turun Hype Labubu Pop Mart

Labubu Pop Mart pernah dijual 50 kali harga ritelnya, kini di bawah harga toko. Anatomi naik-turun hype dan pelajarannya untuk pembeli.
07 Nov 2026 Dimas 5 min read

Labubu Pop Mart pernah jadi boneka yang orang rela antre berjam-jam dan bayar puluhan kali harga ritelnya. Setahun kemudian, harga jual di pasar sekunder jatuh di bawah harga toko, dan pendapatan perusahaan turun 45% hingga 50% dalam satu kuartal.

Pernah ada masa ketika Labubu disewakan per hari. Di China, pengguna platform jual-beli menawarkan rental mulai 30 yuan sehari dengan deposit 2.000 yuan, cukup untuk sekadar foto-foto di pernikahan.

Dari Buku Anak ke Blind Box

Labubu tidak lahir dari lab pemasaran. Karakter ini digambar seniman Hong Kong Kasing Lung pada 2015 untuk cerita anak bersama perusahaan How2Work, dengan gigi runcing dan senyum nakal yang membuatnya jahat dan lucu sekaligus. Pop Mart baru mengambilnya pada 2019.

Skalanya berubah karena cara jualnya: blind box. Kotak ditutup, pembeli tidak tahu dapat figur mana, dan di dalamnya ada satu figur rahasia dengan peluang kecil.

Psikologi di baliknya sudah lama dikenal: ketidakpastian kecil memicu dorongan membeli lagi, bekerja seperti mesin slot. Figur rahasia menyalakan perilaku konsumen berbasis rasa tidak mau ketinggalan.

Lisa Unggah Story, Dunia Ikut Antre

Pada 16 April 2024, Lisa BLACKPINK mengunggah Story Instagram: video membuka blind box Labubu lalu menggantungnya sebagai charm di tas. Story-nya hilang sehari kemudian, dampaknya tidak. Dalam hitungan minggu, boneka ini dicari dari Thailand sampai Amerika. Liputan CNN Indonesia dan detik menyebut unggahan itu titik awal tren gantungan di tanah air.

Rihanna, Dua Lipa, sampai David Beckham ikut memakainya. Di AS dan Inggris, antrean berubah jadi keributan saat stok habis.

Di Indonesia, gantungan ini cepat berpindah dari etalase ke gaya hidup dan sering menggantung di tas. Fungsinya bergeser: dari mainan koleksi jadi penanda status sosial. Tren serupa dengan karakter imut yang lagi viral, daya tariknya sama: mudah dilihat, mudah dipamerkan.

Dari Puncak ke Dasar

MomenAngkaCatatan
Keyring Labubu di KREAM, Juni 20251.099.000 won, harga ritel 21.000 wonLebih dari 50 kali lipat
Harga yang sama, November 2025130.000 wonTurun 88% dalam 5 bulan
Rata-rata “Big Into Energy” di Dewu639 yuan Juni 2025 jadi 100 yuan Januari 2026Turun 84%
Labubu 4.0 “Hair Salon”, November 2026Sekunder 50 yuan, ritel 159 yuanDi bawah harga toko dalam 1 minggu

Semuanya berbalik dalam hitungan minggu.

Kelangkaan Dibongkar Sendiri oleh Produsennya

Sembilan bulan setelah puncaknya, Pop Mart melakukan hal yang paling ditakuti spekulan: memproduksi sebanyak mungkin. Sepanjang 2025, pasokan mainan plush dinaikkan lebih dari sepuluh kali lipat menjadi sekitar 30 juta unit per bulan, menurut CNBC yang mengutip pernyataan Pop Mart sendiri.

Pendiri Wang Ning menyebut tujuannya terang-terangan: mencegah spekulasi jahat atas produknya. CNBC melaporkan pernyataan resmi Pop Mart berbunyi: “If purchases are solely for ‘making a profit,’ this model will eventually crash.” Artinya, kalau pembelian hanya demi untung, modelnya akan jatuh sendiri.

Efeknya instan di pasar sekunder: harga yang pernah lebih dari 2.000% di atas ritel, perkiraan Nomura, turun separuh saat scalper panik menjual.

Harga sekundernya bergerak seperti saham gorengan: naik karena ramai, turun karena panik.

Di Carousell, platform jual-beli Singapura, pencarian Labubu jatuh dari peringkat pertama pada akhir 2024 menjadi keluar dari 100 besar pada akhir 2025. Listing turun 70% dan harga rata-rata turun 30% dibanding setahun sebelumnya. Bahkan rilis November 2026 tidak menolong: riset Deutsche Bank mencatat harga sekunder Labubu 4.0 jatuh ke 50 yuan, di bawah harga ritel 159 yuan, dalam satu minggu.

Hype Jatuh, Perusahaan Masih Berdiri

Angka terbarunya resmi. Dalam pengumuman Pop Mart ke bursa Hong Kong pada 27 Oktober 2026, pendapatan kuartal ketiga 2026 turun 45% hingga 50% dari tahun sebelumnya. Amerika turun 70% hingga 75%, Asia-Pasifik 65% hingga 70%, dan kanal online China 45% hingga 50%.

Dasarnya memang tinggi. Sepanjang 2025, pendapatan melonjak 184,71% menjadi 37,12 miliar yuan. Paruh pertama 2026 masih tumbuh 23,76%, tetapi sudah di bawah perkiraan analis.

Saham memuncak di 339,8 dolar Hong Kong pada Agustus 2025. Usaha membeli kembali saham senilai 251 juta dolar Hong Kong tidak menolong: pada Oktober 2026, saham jatuh ke 123,8 dolar Hong Kong, lebih dari 60% di bawah puncaknya.

Manajemen tidak menyangkal. Kuartal ketiga 2025 disebut Si De sebagai periode penjualan tertinggi dalam sejarah perusahaan, dan spekulasi atas boneka kini mendingin. Target pertumbuhan minimal 20% yang ditetapkan sendiri juga ditinggalkan pada Agustus 2026.

Selain harga, kualitas juga ikut dikomplain: jahitan terlihat, kepala miring, panjang anggota badan tidak sama, sampai ada yang menyamakannya dengan produk palsu. People’s Daily menyerukan regulasi ketat untuk blind box dan kartu koleksi.

Pop Mart menambah IP lain seperti Skullpanda dan Dimoo, karena sejarah sudah memberi contoh: gelembung Beanie Babies pada akhir 1990-an memperlihatkan betapa rapuhnya perusahaan yang bertahan pada satu karakter. Pada paruh pertama 2025, seri The Monsters menyumbang lebih dari sepertiga pendapatan Pop Mart, menurut Reuters.

Yang Naik Bisa Turun, Termasuk Ekspektasi

Kalau dipetakan ke kerangka Gartner Hype Cycle, jalur Labubu terlihat jelas: dari Peak of Inflated Expectations pada 2024-2025 menuju Trough of Disillusionment di 2026. Fase pertama dijalani dengan antrean dan harga spekulatif; fase kedua dijalani dengan restock, diskon, dan harga sekunder di bawah ritel.

Artinya, Labubu tidak sedang mati. Orang tidak lagi berburu terburu-buru, dan nilai “cool” pada barang yang susah didapat ikut memudar. Pelan-pelan, Labubu kembali ke bentuk aslinya: mainan koleksi untuk orang yang benar-benar menyukainya.

Buat kamu yang sedang mempertimbangkan membeli, harga sekunder Labubu 4.0 kini separuh dari harga ritelnya. Beli hanya kalau kamu mau memilikinya sendiri bukan karena terpancing ego lifestyle.

Tanya Jawab

Apa itu Labubu Pop Mart?

Labubu adalah karakter dari seri The Monsters yang digambar seniman Hong Kong Kasing Lung pada 2015, lalu dijual Pop Mart dalam sistem blind box sejak 2019. Ciri khasnya gigi runcing dan senyum nakal yang membuatnya terlihat jahat sekaligus lucu.

Kenapa harga Labubu pernah bisa puluhan kali lipat?

Kelangkaan buatan lewat blind box bertemu dengan dukungan selebriti seperti Lisa BLACKPINK, sehingga permintaan melampaui pasokan dan harga sekunder melonjak sampai 50 kali lipat. Ketika Pop Mart menaikkan pasokan sepuluh kali lipat pada 2025, harga turun dengan kecepatan yang sama.

Apakah Pop Mart bangkrut?

Pop Mart tidak bangkrut. Pendapatan 2025 masih naik 184,71% menjadi 37,12 miliar yuan, dan perusahaan terus membeli kembali sahamnya, meski pendapatan kuartal ketiga 2026 turun 45% hingga 50%.

Apakah Labubu sudah tidak tren lagi?

Hype-nya sudah turun, karakternya tidak hilang. Pencarian Labubu keluar dari 100 besar di platform Carousell, dan trennya kembali perlahan sebagai mainan koleksi biasa.

Baca Juga

Dimas Tarich W

Media Strategy & Content Operations at Spacyon.com. Agentic AI & Digital Marketing Enthusiast.

Related Articles