Agnes AI adalah platform AI agent dari Sapiens AI, startup asal Singapore, yang menggabungkan riset, pembuatan konten, dan kolaborasi tim dalam satu workspace. Diluncurkan Juli 2025, Agnes langsung menempati peringkat ketiga di Product Hunt pada hari peluncurannya.
ChatGPT punya 200 juta pengguna. Perplexity menguasai riset. Tapi tidak ada yang benar-benar memecahkan masalah fragmentasi workflow. Bruce Yang, co-founder Sapiens AI, melihat masalah itu dari dalam: “Kamu berpindah dari chat ke dokumen ke presentasi, tapi konteks tetap hilang.” Agnes AI mencoba menjawab masalah itu dalam satu workspace kolaboratif.
Siapa Bruce Yang di Balik Agnes AI?
Bruce Yang bukan nama baru di industri teknologi. Sebelum membangun Sapiens AI, Bruce Yang bekerja di Microsoft, LinkedIn, serta membangun aplikasi dengan satu juta pengguna di Silicon Valley. Bruce Yang kembali ke Singapore untuk mengejar gelar doktor di National University of Singapore (NUS), dan mulai membangun Agnes AI bersama tim kecilnya.
Agnes AI bukan chatbot biasa. Platform ini menggunakan arsitektur multi-agent yang memungkinkan pengguna membuat presentasi, laporan, visual dari satu perintah. Fitur shared memory memungkinkan AI mengingat konteks lintas proyek dan lintas waktu. Arsitektur ini memungkinkan Agnes menjalankan beberapa tugas secara paralel: meriset data, menyusun outline, membuat slide secara bersamaan tanpa kehilangan konteks antar langkah.
Berbeda dengan ChatGPT yang fokus pada percakapan, atau Perplexity yang fokus pada riset, Agnes menggabungkan ketiganya dalam satu workspace. Ini seperti punya asisten yang membaca semua catatan rapat sebelum mulai bicara. Tapi tanpa perlu dijelaskan dua kali.
“Agnes tidak hanya membantu, tapi mengingat,” tulis Bruce Yang. Kalimat itu bukan klaim kosong. Fitur shared memory sudah tersedia dan berfungsi.
Bagaimana Fitur Kolaborasi Real-Time Bekerja?
Fitur kolaborasi real-time menjadi differensiasi utama. Tim bisa mengedit dokumen dan presentasi secara bersamaan. Shared memory memungkinkan semua anggota tim mengakses konteks yang sama tanpa perlu menjelaskan ulang. Mode async memungkinkan tim di zona waktu berbeda tetap sinkron.
Ini masalah nyata yang dialami banyak tim. Dokumen dikirim ke rekan kerja. Rekan kerja bertanya, “Bagian mana yang harus diedit?” Penjelasan diberikan. Besoknya, pertanyaan yang sama muncul lagi. Agnes AI menghilangkan siklus itu.
Sapiens AI belum merilis angka pengguna aktif atau pendapatan. Tapi jejak digital menunjukkan traksi yang solid. Agnes AI mencatat 507 followers di Product Hunt, rating sempurna 5.0 dari dua ulasan. Beberapa pengguna menyebut fitur kolaborasi sebagai “magic” yang mengubah cara tim membuat presentasi.
Ke depan, Sapiens AI berencana mengintegrasikan Agnes dengan Slack, Trello, Notion, Google Drive. Ekosistem produk juga berkembang: selain Agnes, ada Echo dan Pavo yang melayani kebutuhan berbeda. Rencana social dan community features akan menjadikan Agnes sebagai “OS untuk kolaborasi AI.”
Mengapa AI Workspace untuk Tim Berbeda dari Chatbot?
Industri AI workspace sedang ramai. ChatGPT mendominasi percakapan, Perplexity menguasai riset, Google NotebookLM menarik untuk pengelolaan catatan. Tapi ketiganya dirancang untuk pengguna individual. Agnes AI mencoba ruang berbeda: AI yang dirancang untuk tim, bukan individu.
Masalahnya, workspace kolaboratif bukan sekadar fitur chat yang ditambah share button. Butuh arsitektur yang benar-benar memahami konteks tim, bukan hanya konteks satu orang. Ini seperti membedakan antara Google Docs dan Microsoft Word. Keduanya bisa menulis. Tapi hanya satu yang dirancang untuk bekerja bersama.
“Saya ingin menciptakan AI teammate yang tidak hanya menjawab pertanyaan, tapi membantu berpikir, bekerja, berkarya bersama tim,” tulis Bruce Yang. Kalimat itu bukan janji kosong. Fitur shared memory dan co-editing yang sudah tersedia menunjukkan bahwa Sapiens AI serius membangun workspace kolaboratif, bukan sekadar chatbot yang diberi label baru.
Pertanyaannya, bisakah startup kecil dari Singapore bersaing dengan raksasa seperti OpenAI, Google, Anthropic? Bruce Yang punya jawabannya sendiri: jangan bersaing di skala, tapi di presisi. Agnes AI tidak mencoba menjadi AI paling pintar di dunia. Agnes AI mencoba menjadi AI paling berguna untuk tim yang bekerja bersama.
Baca juga: Transformasi AI di Dunia Kerja Profesional