Google masih menguasai lebih dari 90% pangsa pasar mesin pencari global. Tapi banyak yang bilang SEO sudah tidak relevan.
Pertanyaannya sederhana: siapa yang benar?
SEO “Mati”? Mitos yang Perlu Diluruskan
Banyak yang meramalkan kematian SEO sejak AI search muncul. Alasannya simpel: orang akan beralih dari Google ke ChatGPT atau Perplexity, sehingga optimasi untuk Google jadi tidak relevan.
Kekhawatiran ini masuk akal. Tapi data berkata lain.
Berdasarkan data dari StatCounter tahun 2025, Google masih menguasai lebih dari 90% pangsa pasar mesin pencari global. Di Indonesia, angkanya bahkan lebih tinggi. Perplexity? Baru sekitar 10 juta pengguna aktif bulanan. Google punya miliaran.
Angka-angka ini penting karena menunjukkan bahwa meskipun AI search sedang tumbuh, Google masih jadi raja. Pengguna masih mengandalkan Google untuk hampir semua pencarian, dari cari resep masakan sampai riset bisnis.
SEO tidak mati. Tapi cara kerjanya berubah.
Dan ini justru peluang. Bisnis yang paham perubahan ini punya waktu untuk beradaptasi sebelum kompetitor menyusul.
Realita: SEO Berubah, Tapi Tidak Hilang
SEO tradisional itu sederhana: optimasi untuk Google. Sekarang pendekatannya berkembang jadi “optimize for discovery”, artinya konten Anda harus bisa ditemukan di Google, di AI search, bahkan di media sosial.
Prinsip dasarnya sama: buat konten yang relevan dan berkualitas. Yang berubah adalah platform distribusinya.
Menurut studi dari BrightEdge tahun 2025, 68% dari semua pengalaman online masih dimulai dari mesin pencari. Angka ini memang menurun dibanding tahun sebelumnya. Tapi masih dominan. Search engine masih jadi cara utama orang menemukan informasi.
Yang menarik, penurunan ini bukan berarti orang berhenti mencari. Mereka hanya mencari di lebih banyak tempat. Google masih utama, tapi YouTube, TikTok, dan Instagram juga jadi titik awal pencarian untuk banyak orang.
Artinya, strategi SEO yang hanya fokus pada Google sudah tidak cukup. Konten Anda perlu bisa ditemukan di berbagai platform. Tapi fondasi tetap sama: konten yang menjawab pertanyaan nyata pengguna.
Bagaimana AI Mengubah SEO
Google AI Overview (dulu bernama SGE) menampilkan ringkasan jawaban AI di bagian atas hasil pencarian. Ini mengubah cara orang berinteraksi dengan search results. Beberapa pengguna mungkin tidak perlu klik link lagi karena jawabannya sudah ada di halaman pencarian.
Tapi AI Overview tetap butuh sumber dari website. Website yang ranking di posisi teratas punya peluang lebih besar untuk jadi sumber AI Overview. Jadi optimasi untuk posisi tetap penting.
AI search seperti Perplexity dan ChatGPT memang jadi alternatif. Tapi penggunaannya masih relatif kecil dibanding Google. Dan semua AI search ini tetap membutuhkan konten dari website sebagai sumber informasi.
Tanpa konten berkualitas di website Anda, AI tidak akan bisa memberikan jawaban yang akurat. Ini berarti SEO tetap relevan, bukan hanya untuk Google, tapi juga untuk memastikan konten Anda bisa diakses oleh AI.
Yang Tetap Sama dari SEO
Di era AI, konten berkualitas justru jadi semakin penting. Dengan banyaknya konten AI yang membanjiri internet, konten yang benar-benar berkualitas, informatif, berbasis pengalaman nyata, akan semakin langka dan berharga.
Google dan AI search sama-sama mencari konten yang paling berguna bagi pengguna. Konten yang cuma dibuat untuk mesin pencari tanpa mempertimbangkan kebutuhan nyata pengguna akan semakin sulit bersaing.
Memahami search intent juga tetap jadi kunci. Baik di Google maupun AI search, konten yang menjawab intent dengan baik akan mendapat preferensi. Yang berubah adalah cara mengukur dan mengoptimasinya.
E-E-A-T (Experience, Expertise, Authoritativeness, Trustworthiness) makin penting di era AI. Dengan banyaknya konten AI yang generik, website yang punya E-E-A-T kuat akan lebih mudah bersaing. Pengalaman nyata, keahlian yang terbukti, dan otoritas yang dibangun konsisten jadi pembeda utama.
Baca juga: Apa Itu E-E-A-T?
Yang Berubah dari SEO
Optimasi untuk AI Overview adalah keterampilan baru yang harus dikuasai praktisi SEO. Ini mencakup pembuatan konten yang bisa jadi sumber AI Overview, penggunaan structured data, dan optimasi untuk featured snippet.
Structured data atau schema markup membantu AI memahami konten website dengan lebih baik. Website yang punya structured data lengkap punya peluang lebih besar untuk jadi sumber AI Overview dan AI search.
Brand authority juga jadi pembeda utama. Website dengan brand yang kuat dan terpercaya akan lebih mudah ranking dan menjadi sumber AI. Brand authority tidak bisa dibeli atau dimanipulasi, harus dibangun secara konsisten melalui konten berkualitas.
Yang Harus Dilakukan Sekarang
Pertanyaannya bukan lagi “apakah SEO masih relevan” tapi “bagaimana beradaptasi dengan perubahan ini.”
Pertama, audit konten Anda yang sudah ada. Mana yang masih relevan? Mana yang perlu update? Prioritaskan konten yang sudah ranking di posisi 1-10 karena potensi perubahannya paling besar.
Kedua, optimasi untuk AI Overview. Gunakan structured data, buat konten yang bisa menjawab pertanyaan langsung, dan pastikan informasi di konten Anda akurat dan terkini.
Ketiga, bangun E-E-A-T secara konsisten. Tambahkan pengalaman nyata, sertakan data dan sumber yang kredibel, dan tunjukkan keahlian Anda melalui konten yang mendalam.
Keempat, jangan hanya fokus pada Google. Optimasi untuk ditemukan di berbagai platform pencarian. YouTube, TikTok, dan Instagram juga bagian dari strategi discovery.
Dan waktu terus berjalan. Semakin lama Anda menunda optimasi SEO di era AI, semakin jauh kompetitor yang sudah mulai duluan.
Baca juga: Apa yang Berubah dari SEO di 2025?