Bungie Kehilangan Separuh Karyawan Setelah Destiny 2 Berakhir

Bungie kehilangan separuh karyawan setelah Destiny 2 berakhir. 292 posisi dipangkas, tim dibubarkan, dan hanya Marathon yang tersisa.
29 Jun 2026 Dimas 4 min read

Kantor Bungie di Bellevue, Washington, mendadak sepi. Meja-meja kosong, layar monitor padam, kotak kardus berjejer di lobi. Perusahaan yang dikenal sebagai pencipta franchise Destiny dan Halo ini mengumumkan pemotongan 292 posisi, hampir setengah dari total karyawan mereka.

Pengumuman itu datang tanpa peringatan. Dalam hitungan jam, seluruh tim pengembangan Destiny 2 dibubarkan. Tak ada satu pun pengembang inti yang tersisa. Beberapa kontributor Marathon juga terkena dampak, termasuk tim pengujian yang seharusnya menyelesaikan hotfix terakhir untuk Destiny 2.

“Semua orang pergi,” kata seorang saksi yang meminta anonimitas. “Bahkan mereka yang sudah dipindahkan ke proyek Marathon ikut terkena.”

Angka yang Mengerikan

Berdasarkan dokumen WARN yang dilaporkan Forbes, 292 karyawan resmi diberhentikan pada 9 Juli 2026. Angka ini belum termasuk karyawan di lokasi lain atau kontraktor yang juga kehilangan pekerjaan.

PHK ini menjadikan Bungie sebagai salah satu studio game terbesar yang terkena gelombang pemotongan tahun 2026. Sebelumnya, Sony selaku pemilik telah mengucurkan dana besar untuk mengakuisisi Bungie pada 2022. Namun kini, investasi itu terasa seperti pembelian yang terlalu mahal.

Destiny 2, game yang selama ini menjadi sumber pendapatan utama Bungie, akan dimasukkan ke dalam mode pemeliharaan. Tidak ada konten baru yang direncanakan. Pembaruan live service berakhir. Pemain yang sudah menghabiskan ribuan jam dan ratusan dolar untuk kosmetik dan ekspansi kini ditinggalkan tanpa tujuan jelas.

Kepimpinan yang Runtuh

Justin Truman, kepala Bungie yang menggantikan Pete Parsons, mundur dari jabatannya. Laporan menyebutkan co-founder Jason Jones juga telah pergi. Tyson Green, direktur Destiny 2 yang jarang muncul, nasibnya belum jelas.

Banyak anggota senior Bungie memiliki perjanjian vesting dengan Sony yang akan cair bulan ini. Uang tunai dari penjualan studio mungkin menjadi alasan mengapa banyak wajah lama yang tiba-tiba menghilang.

Pengganti Truman adalah Poria Torken, mantan VP Operasi yang sebelumnya berasal dari Guerrilla Games. Ia sudah berada di Bungie selama satu dekade, tapi hampir tidak dikenal oleh komunitas pemain. Mantan komunitas manager Bungie, Liana Ruppert, menyebutnya “orang yang baik.”

Marathon: Satu-satunya Harapan

Marathon, game extraction shooter yang sedang dalam pengembangan, menjadi satu-satunya harapan Bungie untuk bertahan hidup. Director Joe Ziegler masih memimpin proyek ini. Konten untuk season 3 dan seterusnya masih berjalan.

Herman Hulst, kepala PlayStation, menyebut Marathon “bagian penting dari portofolio kami” dan berjanji akan terus mendukungnya setelah “fondasi kuat yang dibangun di season 1 dan 2.” Tapi angka internal dan reaksi publik menceritakan kisah berbeda.

Game ini menerima ulasan campuran. Jumlah pemain aktif jauh di bawah ekspektasi. Banyak yang meragukan apakah Marathon bisa menggantikan Destiny 2 sebagai mesin pendapatan.

Janji “fondasi kuat” dari Hulst terdengar seperti retorika perusahaan yang sudah kehabisan opsi. Kenyataannya, Bungie kini hanya punya satu percobaan tersisa. Satu game untuk membuktikan bahwa studio ini masih layak hidup.

Konteks yang Lebih Besar

Bungie bukan satu-satunya studio yang terkena dampak. Tahun 2026 mencatat rekor PHK di industri game, dengan lebih dari 3.700 pekerjaan hilang secara global. Sony, Microsoft, dan perusahaan besar lainnya juga melakukan pemotongan serupa.

Tapi Bungie berbeda. Mereka baru saja diakuisisi senilai $3.6 miliar. Dua franchise terkenal ada di genggaman mereka. Seharusnya menjadi contoh kesuksesan, bukan cerita kegagalan.

Masalahnya, Bungie terlalu bergantung pada model live service yang mahal. Destiny 2 membutuhkan pembaruan konstan, konten baru setiap musim, dan tim besar untuk memeliharanya. Ketika pemain mulai berpindah ke game lain, pendapatan menurun. Biaya tetap tinggi.

Industri game sedang belajar dengan cara yang pahit: model live service bukan cetakan uang yang bisa diandalkan selamanya. Beberapa studio sudah beralih ke game single-player atau hybrid. Bungie, dengan semua sejarah dan bakatnya, terjebak di tengah-tengah tanpa jalan keluar yang jelas.

Masa Depan yang Tidak Pasti

Bungie kini hanya memiliki satu game yang sedang dikembangkan. Proyek inkubasi lainnya masih butuh bertahun-tahun sebelum hijau. Destiny 3 mustahil dibuat karena seluruh tim Destiny 2 sudah bubar.

Studio yang dulu bangga dengan budaya independennya kini bergantung pada Sony. Mereka kehilangan talenta terbaik, kehilangan komunitas pemain, dan kehilangan kepercayaan diri.

Para karyawan yang terkena PHK kini mencari pekerjaan baru. Beberapa mungkin bergabung dengan studio lain. Yang lain mungkin meninggalkan industri game sepenuhnya. Sementara itu, kantor Bungie yang dulu ramai kini hanya menyisakan keheningan.

Dimas Tarich W

Media Strategy & Content Operations at Spacyon.com. Agentic AI & Digital Marketing Enthusiast.