Spacyon – Akhir-akhir ini, istilah Artificial General Intelligence atau AGI makin sering nongol di headline teknologi. Tapi, apa sih sebenarnya AGI itu? Dan kenapa banyak ilmuwan bilang ini adalah next big thing dalam dunia kecerdasan buatan?
Kalau AI yang kita kenal sekarang jago ngerjain satu tugas misalnya nulis artikel, ngenalin wajah, atau ngatur jadwal AGI justru dirancang untuk jadi “pintar serba bisa.” Bukan cuma pintar, tapi juga bisa mikir, belajar dari pengalaman, bahkan ngambil keputusan sendiri. Kayak manusia, tapi versi digital.
Apa Itu AGI (Artificial General Intelligence) ?
AGI (Artificial General Intelligence) adalah bentuk kecerdasan buatan yang nggak cuma jago satu hal, tapi bisa menjalankan berbagai tugas intelektual secara fleksibel mirip cara otak manusia bekerja.
Cek Deh Artikel Ini: Cara Dapat Diskon 50% ChatGPT Plus Selama 3 Bulan
Menurut Paul Ferguson dari Clearlead AI Consulting, AGI akan mampu memecahkan masalah lintas bidang, menunjukkan kreativitas, dan bernalar kompleks. Dalam wawancaranya yang dikutip sejumlah media, Ferguson bilang, “Ini bukan sekadar upgrade, tapi revolusi.” Bold banget, ya.
Senada dengan itu, Ghazenfer Monsoor, CEO Technology Rivers, juga sempat bilang kalau AGI bisa dipakai buat analisis data medis, prediksi penyakit, sampai bikin rekomendasi perawatan semuanya dilakukan mesin, tanpa perintah khusus dari manusia.
Perbedaan AGI dan AI Biasa
Biar nggak salah kaprah, yuk bedain dulu AGI dengan AI biasa (yang sekarang sering kamu pakai buat ngetik caption atau edit foto).
Menurut Sertac Karaman, profesor di MIT, AI konvensional itu spesialis: pintar di satu hal, tapi nggak bisa disuruh ngerjain hal lain. AlphaGo jago main Go, tapi disuruh main catur? Bingung.
Sementara AGI dirancang buat bisa menyelesaikan tugas dari awal sampai akhir, tanpa harus dikasih tahu caranya dulu. “Alih-alih sekadar memberi kita informasi, AGI akan mampu bertindak mandiri,” kata Karaman.
Cek Deh Artikel Ini: Gemini Luncurkan Scheduled Actions: Fitur AI Baru Penantang ChatGPT
Paul Ferguson juga menambahkan bahwa model AI besar yang kita punya sekarang, seperti LLM (Large Language Models), sebetulnya masih sekadar mesin pencocok pola super pintar. “Mereka makin fleksibel, tapi belum punya kecerdasan umum,” katanya dalam sesi tech briefing yang banyak dikutip media.
Sudah Sejauh Apa Perkembangan AGI?
Well, kalau kamu pikir AGI bakal hadir minggu depan kayaknya harus ditahan dulu ekspektasinya.
Sarah Hoffman dari AlphaSense pernah bilang kalau kesenjangan antara AI sekarang dan AGI masih lebar banget. Tapi bukan berarti nggak ada kemajuan. “Teknologi sekarang udah bantu banyak sektor dari kesehatan, keuangan, sampai kreatif,” ujarnya.
Ferguson pun mengakui hal serupa. Ia bilang LLM seperti GPT sudah banyak dipakai buat bantu decision-making di dunia bisnis. Tapi untuk bisa berpikir lintas konteks dan adaptasi kayak manusia? “Kita masih butuh waktu panjang,” ujarnya.
Tantangan Menuju Artificial General Intelligence
Sejumlah peneliti menyebut ada setidaknya tiga tantangan besar buat ngewujudin AGI:
- Penalaran akal sehat (common sense reasoning)
- Kemampuan pembelajaran lintas domain (transfer learning)
- Simulasi kesadaran atau self-awareness
Tanpa hal-hal ini, AGI masih sebatas mimpi. Bahkan Ferguson bilang, “Daripada buru-buru bikin AGI, lebih baik kita fokus dulu ke bagaimana mengintegrasikan AI dengan kerja manusia.”
Masa Depan AGI: Harapan vs Kenyataan
Kalau (atau ketika) AGI benar-benar jadi nyata, dampaknya bakal luar biasa. Di bidang medis, misalnya, AGI bisa jadi rekan dokter yang bantu diagnosis, bikin perawatan personal, bahkan bantu nemuin obat baru semua berbasis data besar dan kecepatan komputasi.
Di industri, kita bisa bayangin robot-robot yang bukan cuma nurut perintah, tapi juga belajar dari kesalahan dan mengembangkan solusi sendiri.
Tapi jangan lupa, ada risiko juga. Ferguson mengingatkan soal hilangnya beberapa jenis pekerjaan, meningkatnya ketimpangan akses teknologi, dan munculnya pertanyaan etis: siapa yang bertanggung jawab kalau AGI salah ambil keputusan?
Kesimpulan: AGI Masih Jauh, Tapi Bukan Mustahil
AGI mungkin belum hadir hari ini, tapi arah ke sana udah kelihatan. Teknologi yang makin pintar, riset yang makin dalam, dan kolaborasi lintas bidang bikin kita optimis. Tapi sambil menunggu AGI beneran jadi, ada baiknya kita siap-siap dari sekarang secara teknologi, sosial, dan etika.
Seperti kata Monsoor, “Kalau kita bisa membangun AGI yang sejalan dengan nilai-nilai manusia, maka masa depan bisa jauh lebih baik dari yang kita bayangkan.”
Kepo sama dunia AI & teknologi kekinian?
Langsung aja scroll artikel seru lainnya di Spacyon.com dijamin bikin makin melek digital!